Tadinya prinsip dalam hidupku adalah, “I have three priorities in my life, Me My Self and I”…
Mungkin bagi sebagian besar orang, juga mempunyai prinsip yang sama seperti aku. Yang terpenting dalam hidup kita ya KITA sendiri.
Tapi, keadaan yang aku alami saat ini merubah pandanganku tentang hidup, merubah prioritasku, dan merubah jalan hidup yang aku tempuh.
Baru aku sadar ternyata ada yang harus kuperhatikan, ada yang harus aku sayangi lebih dari apapun di dunia ini. Merekalah orang tuaku, papa dan mamaku yang tak pernah pergi dari sisiku walau sedetikpun.
Senang, sedih, terpuruk, stress, merasa hina, atau apapun yang kurasakan,, papa dan mama akan selalu memelukku dengan erat.
Seperti keadaan yang kualami saat ini dan beberapa bulan yang lalu. Karena kelalaianku, sakit yang kualami tak kunjung membaik. Ga bisa kerja, ga bisa punya banyak kegiatan, ga bisa bebas bergerak seperti dulu. Tapi papa dan mama adalah supporeter terbaikku. Apapun mereka lakukan untukku tanpa keluh dan wajah sedih. Doa dan usaha untuk kesembuhanku mereka lakukan setiap hari, setiap saat.
Aku mengutip kalimat dari status keponakanku, untuk mengambarkan betapa papaku tak ada duanya di dunia ini :
“ aku masih teramat salut dengan sebagian ayah yang tetap sabar mengenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di tengah malam sampai membawanya kembali bersama pagi, berharap ada rezeki yang Allah berikan kepadanya.”
Itulah PAPAKU, imam terbaik bagi keluargaku, papa yang selalu mengembangkan senyumnya sepulang dia kerja, menyempatkan dirinya yang lelah untuk sekedar bersendagurau dengan anak-anaknya, memelukku dan bertanya “apa rasanya hari ini?”, bagiku itu adalah obat yang tiada tara nilainya. Padahal aku tau betapa gundah hatinya karena keadaanku, tapi tak pernah sedikitpun dia mengeluh karena lelah dan gundahnya.
Aku ingat saat pekerjaan menuntutku untuk pulang hingga larut malam, ga punya banyak waktu dirumah. Papa hanya berpesan padaku untuk selalu menjaga kesehatan, padahal aku sangat tau pekerjaanku ini bertntangan dengan hatinya. Karena keegoisanku, Allah menyadarkanku dengan penyakitku. Aku harus dioperasi dan dirawat di rumah sakit. Tak sedkitpun papa menyalahkanku, bahkan doanya semakin banyak untukku tak pernah berkurang sedkitpun hingga saat ini.
Aku Mencintai Papaku.

wif papa, my best hero in the world..
Mamaku, adalah ibu terbaik yang pernah ada sepanjang masa. Sahabat terbaikku, teman curhat yang paling oke, dan dia adalah panutan ku untuk masa depanku nanti. Mama selalu ada untukku kapanpun aku membutuhkannya, kapanpun aku ingin mendekapnya.
Berbulan-bulan sakitku yang tak sembuh ini, tak membuatnya mengeluh, tak membuatnya gentar untuk membuatku sehat kembali. Mama tak pernah memperlakukanku seperti seorang pesakitan, karena kata mama aku harus jadi orang yang tegar meskipun aku perempuan. Karena tak selamanya aku hidup bersama orang tuaku maka aku di didik untuk tidak menjadi cengeng. Namun pelukan mamaku adalah obat yang tak bisa ditukar dengan apapun.
Mamaku yang tegar, mamaku yang hebat. Aku Mencintai MAMAKU!!!

mama sahabat terbaikku
Dan pada hari ini, seterusnya sampai nafas ini terhenti, tak cukup rasanya terimakasih yang aku sampaikan untuk mereka. Kesembuhanku adalah karena Allah dan betapa baiknya Allah memberikan mereka sebagai orang tuaku di dunia ini. Aku bangga menjadi anak mereka. Anak yang tak pernah dituntut untuk sukses di dunia tapi harus selalu menjadi anak sholehah, tidak meninggalkan sholat sudah bisa menjadi kebanggaan mereka.
Betapa hebatnya papa dan mamaku adalah obat terampuh yang tak bisa dibeli dengan uang untuk apapun penyakit yang ada dalam tubuhku ini. Aku akan selalu sembuh setiap berada dirumah, di dekat papa, mama dan adikku, aku akan selalu sehat dengan doa dan dukungan mereka!
Cinta dan sayang mereka terhadapku lah yang menjadi nafas hidupku.
Terimakasih papa dan mama dari hatiku yang terdalam……

my irreplaceable